JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah tensi geopolitik global yang belum menentu dan fluktuasi nilai tukar Rupiah yang membayangi aktivitas ekspor-impor, sektor lahan industri Indonesia justru menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Pada kuartal IV-2025, pasar lahan industri tidak hanya sekadar bertahan, tetapi justru berekspansi dengan tambahan pasokan baru seluas 82 hektar.
Dominasi Tak Tergoyahkan Koridor Timur
Sejauh ini, Bekasi, Karawang, dan Purwakarta masih memegang kendali sebagai pusat gravitasi industri manufaktur dan logistik Nasional.
Berdasarkan distribusi pasokan, Bekasi mendominasi dengan pangsa pasar 44 persen, disusul oleh Karawang dan Purwakarta sebesar 30 persen. Jika digabungkan, koridor timur ini menguasai hampir tiga perempat dari total ketersediaan lahan industri di sekitar Jakarta.
Bekasi dan Karawang Masih Jadi Kiblat Industri Nasional.
Tingginya minat di kawasan ini bukan tanpa alasan. Infrastruktur yang matang dan ekosistem yang sudah terbentuk menjadi daya tarik utama bagi sektor logistik, consumer goods, hingga pusat data (data center). Associate Director Consulting & Research PT Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea, menjelaskan bahwa dinamika harga dan permintaan saat ini sangat dipengaruhi oleh efisiensi logistik. Harga pasar rata-rata telah mencapai Rp 3,12 juta per meter persegi, naik sekitar 2,5 persen secara kuartalan.
Anomali Jakarta dan Pergeseran ke Subang
al distribusi, Jakarta tetap mencatatkan harga lahan industri tertinggi mencapai Rp 5,72 juta per meter persegi. Hal ini mencerminkan kelangkaan lahan di pusat pertumbuhan ekonomi utama, yang memaksa para investor mulai melirik wilayah pinggiran yang lebih terjangkau seperti Serang dengan Rp 2 juta per meter persegi, dan Cilegon dengan Rp 2,25 juta per meter persegi.
Namun, tren masa depan tampaknya tidak lagi hanya berkutat di Bekasi atau Tangerang. Pengoperasian jalan Tol Japek II Selatan pada tahun 2026 diprediksi akan menjadi game changer.
Analisis data menunjukkan adanya potensi pergeseran preferensi ke arah timur yang lebih jauh, yakni Subang hingga Indramayu. Faktor utamanya adalah upah minimum yang lebih terjangkau serta harga lahan yang masih berupa raw land (lahan mentah) dengan harga kompetitif.
Optimisme di Tengah “Wait and See”

Meski sebagian investor masih dalam posisi wait-and-see, kepercayaan diri pasar tetap terjaga. Hal ini didorong oleh target investasi pemerintah tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp 2.175,2 triliun, atau naik 12,6 persen dibandingkan capaian tahun 2025.
Kemampuan pemerintah dalam menarik investor asing dan domestik di sektor-sektor strategis seperti data center dan energi hijau diprediksi akan menjaga tingkat penjualan lahan industri tetap stabil di angka 91,6 persen.
Ke depan, tantangan bagi pengelola kawasan industri bukan lagi sekadar menyediakan lahan, melainkan bagaimana menawarkan fleksibilitas komersial dan aksesibilitas infrastruktur yang mampu mengimbangi kenaikan biaya operasional akibat inflasi global. Bagi para industrialis, kunci kemenangan di tahun 2026 adalah ketepatan memilih lokasi: tetap bertahan di pusat (Bekasi-Karawang) demi ekosistem, atau melompat lebih jauh ke timur demi efisiensi jangka panjang.